Sabtu, 30 April 2011

Kurikulum Konsep Islam Terpadu

Sebelum membahas tentang metode dan kurikulum yang diterapkan di Taman Batita dan Play Group Mu’adz Bin Jabal, lebih dahulu ustadzah harus memahami Konsep Pendidikan Islam Terpadu, agar dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar di taman batita maupun di play group Mu’adz bin Jabal senantiasa berada dalam ’kerangka’ keterpaduan dengan nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas dan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.

Mengambil dari makalah yang disampaikan oleh Bapak Ery Masruri, secara paradikmatik, Konsep Pendidikan Islam Terpadu mengacu kepada 5 prinsip dasar kehidupan sebagai berikut :

1. Kesempurnaan Islam sebagai Dien, bahwa Islam sebagai pedoman hidup, ajaranya telah menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia
2. Status manusia, sebagai Kholifah fil ardi,yang karenanya manusia memerlukan kekuatan dan ketrampilan fisik, kecerdasan intelektual, serta kematangan emosional.
3. Tugas manusia sebagai ’abdullah’, yang memerlukan sikap ketundukan jiwa/taat hukum karena sadar akan kekuasaanny-Nya.
4. Kewajiban orang tua mendidik anak, dimana setiap anak terlahir dalam keadaan suci, dan setiap orang tua bertanggung jawab menjaga (mendidik) anaknya agar tetap dalam kesucian (Keislaman)nya.
5. Kewajiban Da’wah, dimana setiap orang berkewajiban untuk menyampaikan nilai-nilai kebenaran dan mencegah kerusakan (melekukan perbaikan/pendidikan) terhadap masyarakatnya.

Dengan lima prinsip dasar tersebut, maka Pendidikan harus dirancang secara terpadu, dimana aspek keterpaduannya meliputi :

1. Keterpaduan Kurikulum

Sebagai kpnsekwensi logis dari konsep ” hidup untuk ibadah” adalah tidak adanya dikotomik ’dunia- akhirat’. Setiap aktivitas harus merupakan representasi kerja kekahalifahan (pemeliharaan dunia), sekaligus pengabdian kepada Allah SWT (berimplikasi pada kebahagiaan akhirat). Hal demikian akan terwujud, hanya jika alam semesta (realitas obyektif) dipahami sebagai fenomena dari realitas hakikinya (kekukasannya). Sehinnga setiap interaksi yang terjadi, baik,fisik, mental maupun intelektual selalu dalam rangka dan berdampak kepada pengagungan Penciptanya.

Dengan kerangka pemahaman seperti demikian ,maka kurikulum dirancang tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan fisikal dan kecerdasan intelektual saja , tetapi seluruh potensi fitri manusia secara kaffah, yakni kecerdasan intelektualnya,kekuatan dan ketrampilan fisikalnya, kematangan sosial emosionalnya, serta sikap jiwa yang tunduk kepada hukumNya ( eimanan dan ketakwaannya ).

Pada dataran operasional, hal ini berkonsekwensi pada dua hal :
1) Seluruh aktivitas diposisikan sebagai proses belajar mengajar, yang dirancang guna mengembangkan fikir dan dzikir secara bersama

2) Seluruh komponen pembelajaran harus saling terkait satu dengan lainya, sehingga membentuk jaring laba-laba (spider web) pembelajaran

2. Keterpaduan Iman, Ilmu dan Amal

Iman,ilmu dan amal adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Dimana kesempurnaan Iman sangat ditentukan oleh kedalaman ilmu, dan dari keduanya berbuah amalan baik. Sebaliknya, amalan baik akan menjadi inspirasi (wasilah) ilmu, sehingga iman pun semakin bertambah dalam. Sedangkan iman yang dalam ,akan memancarkan ilmu dan berbuah amal kebaikan.

Dengan keangka pemahaman seperti demikian, maka setiap aktivitas dalam proses belajar mengajar diformat dalam satu kesatuan; iman, ilmu dan amal. Sehingga setiap materi pembelajaran tidak hanya dihadirkan sebagai wacana, tetapi utuh dengan aktualisasinya.

Dalam pelaksanaannya, hal ini menuntut adanya :
1) Komitmen keuswahan (konsistensi perilaku) dari seluruh jajaran, terutama pendidik (ustadzah). Karena aktualisasi dari nilai-nilai yang diajarkan, peertama kali akan dilihat anak/siswa pada diri ustadzah/pengajarnya.
2) Penegakan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kontrol moral antar personal
3) Penguasaan kontektualitas (kemampuan aplikatif) ustadzah terhadap materi yang diajarkannya
4) Ketersediaan program dan sarana pembelajaran yang mendukung


3. Keterpaduan Pengelolaan

Keempat tuntutan diatas membawa konsekwensi pada pengelolaan belajar mengajar. Dimana setiap aktivitas harus dipandang sebagai proses pendidikan . Sehingga proses belajar mengajar , harus dipahami tidak terbatas hanya tatap muka di dalam ruang kelas saja ,tetapi berlangsus sejak ketika anak datang ke sekolah sampai ketika dia pulang ke umah. Dengan demikian , setiap sesuatu baik peristiwa, barang maupun orang ( siswa ,guru, pengurus yayasan bahkan tamu sekaligus) yang berada di lingkungan sekolah , harus selalu dikelola (diposisikan dan memposisikan dirinya sebagai media, obyek sekaligus subyek pendidikan, yang setiap aktivitasnya dikoordinasikan (disinkronkan) kedalam proses pendidikan

4. Keterpaduan Program

Keberhasilan sebuah program sangat tergantung dengan tingkat konsistensi dan kontinuitas penyelenggaraannya. Dalam kontek pendidikan , dimana prosesnya berjalan sepanjang masa ( sejak dalam kandungan sampai liang lahat) koordinasi program antar tiga pilarutamanya : keluarga, sekolah dan masyarakat menjadi prasarat yang tidak bisa ditinggalkan.Hal demikian dapat dipenuhi, hanya jika semua pihak melwetakkan pendidikan sebagai kewajibanya,dimana :
1) Keluarga harus membangun paradigma baru, dimana rumah dilihat sebagai sekolah pertama bagi anak, dan orang tua sebagai guru utamanya.
2) Sekolah sebagai institusi strategis penentu arah peradaban
3) Masyarakat adalah ladang persemaian, yang harus diolah dan dijaga kesuburannya.

Relasi antar ketiganya bersifat sinergis. ’kemitraan’. Dimana lembaga sekolah merupakan institusi da’wah (sosial) yang sedang melakukan tugas perbaikan (pendidikan), bekerja sama dengan keluarga dalam menyiapkan kemampuan anak (generasi penerus) untuk mengambil peran masa depannya (membangun peradaban). Dalam hal ini, karena programnya yang lebih spesifik pendidikan, sekolah harus mengambil inisiatif, dengan merumuskan serangkaian program yang sinergis , dengan melibatkan keluarga (wali urid) dan masyarakat secara optimal.